Tiffani Permatasari blogspot,dear god give me something beautiful ,and the next i wanna be a doctor :) FK amin(y)klik di http://tiffaniusnizar.blogspot.com
Sabtu, 29 Januari 2011
Aku Menunggumu cerpen by(Tiffani Permatasari)
Ku pejamkan mata malam itu, ditengah gelegar petir dan dentikan hujan deras di luar. Namun masih terasa sulit aku terlelap, kelopak mata ini gemetar, seakan menolak ku pejamkan. Akhirnya terpaksa aku akhiri perjuanganku menembus alam mimpi. Ku terbangun dari tempat tidurku, bergegas duduk dikursi samping tempat tidurku dengan menatap cermin. Tak ada rasa takut saat itu, padahal guntur terus menggelegarkan amarahnya. Tak terasa aku tertidur dikursi dengan wajah yang tertopang dimeja hingga adzan subuh berkumandang. Ku akhiri semua mimpi, bergegas bersihkan diri dan shalat subuh. Setelah selesai, tiba-tiba pertanyaan itu kembali terngiang ditelingaku "Aku mohon. . . Katakan kau membencinya". Huft. . . Hati ini gemetar saat mengingat itu. 2 hari berlalu, dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyayat kalbu, yang patahkan semua rasa rindu. Akhirnya ku tekadkan dalam hati, "Demi makhluk Tuhan yang tak berdosa nanti, ku ikhlaskan dia membenciku karena kemunafikanku". Kalimat itu yang terus ku lantunkan dipikiranku. Tepat tanggal 20 Januari 2010, ku bergegas pergi menemui Remi dikantornya. Dengan hati yang gelisah gak karuan, dengan tetes mata yang terus membendung dikelopak mataku, dengan rasa perih sekaligus sesak didadaku, aku terus ucapkan "Aku bisa Meski akan terluka". Tak kuasa ku menyetir mobil sendiri, karena jari-jariku terus bergetar. Akhirnya ku naik taxi. Sesampainya di depan kantornya, tiba-tiba tekadku melemah, rasanya tak sanggup ku pijakkan kaki menuju hadapannya. Tapi tetap saja aku harus melupakannya, aku langkahkan kaki dengan menahan air mata. Setibanya direceptionist, ku tanyakan ruangan Remi. Setelah itu ku teruskan langkahku untuk menemuinya, namun belum sampai ku di depan ruangannya, ku lihat sosok Remi yang begitu ku rindukan, tengah berdiri di depan karyawannya. Entah sedang apa, aku gak tahu. Huft. . . Tak mampu ku angkat kaki untuk melanjutkan langkah, rasanya lemas sekali, ingin saja aku berlari dan memeluk erat raganya, namun aku gak bisa. Ingin saja ku berdiri tegar dihadapannya, dan katakan "Aku merindukanmu" dengan tersenyum, tapi gak mungkin. Jantungku berdegup tak beraturan, tak sanggup melihat raut wajah kehancurannya, ketika aku harus katakan "Aku membencimu". Bagaimana mungkin, setelah sekian lama tak jumpa, tiba-tiba aku hadir dan katakan semua itu. Terdiam sebentar menatap sosok itu, tiba-tiba ada karyawan menyapaku "mencari siapa mbak ?", "A. . .aku. . . gak cari siapa-siapa koq, maaf permisi" jawabku gugup dan bergegas kembali, karena aku tak mungkin mengatakannya, sedang air mata tak sanggup lagi ku tahan. Belum jauh aku pergi meninggalkan kantor. Kalimat "Aku harus katakan sekarang, sebelum rindu semakin menumpuk, dan sebelum luka membusuk". Akhirnya ku berpikir "jika aku tak mampu mengatakan dihadapannya, kenapa tak lewat telpon saja ?". Akhirnya ku ambil Hp di dalam tasku, mulai ku mencari namanya DERI. . . Ya Deri. . . Nama yang pernah kami siapkan untuk anak kami kelak, jauh sebelum pernikahannya, yang belum sempat aku edit. Mulai aku memanggil. . . 2 panggilan tak terjawab, mungkin dia sibuk, tak sempat dia angkat. Ketika panggilan ke 3 akhirnya dia angkat. "Assalammualaikum. . ." "walaikumsalam Dev. . ." "kok kamu tahu ini aku ? Padahal nomorku udah ganti loh" jawabku dengat terkejut "suaramu masih khas ditelingaku, kemana aja kamu ? Kenapa gak pernah menghubungiku, aku kangen sama kamu" suaranya sedikit lirih. "aku juga. . ." jawabku pelan. "bagaimana ka. . ." "bagaimana pernikahanmu ?" tanyaku memotong kalimatnya. Tak ada jawaban waktu itu, yang terdengar hanya pijakan langkah kaki, entahlah dia mau kemana. "kenapa diam ?" tanyaku ulang. "tak seindah bersamamu. . ." jawabnya lirih sekali, diiringi suara hembusan angin. Pikirku dalam hati, aku gak bisa terlalu lama berbasa-basi. Belum sempat ku ucapkan, telponnya putus. Mungkin gangguan singnal. Sempat ku lihat ada seorang pria berdiri diatas gedung lantai teratas, beberapa detik setelah telponnya terputus. Pikirku "untuk apa pria itu disana seperti menggenggam hp yang sedang mencari signal, gak takut jatuh apa ? Mungkin broken heart kali, terus mau bunuh diri. Uh dasar bodoh kalau emang begitu". Lama sekali telponku gak nyambung-nyambung. "Signalnya gak ngedukung nih" kataku dalam hati, "lewat sms aja kali ya ? Daripada lama-lama, nanti malah terlambat". Akhirnya aku mulai mengetik SMS. "Re, sebenernya aku pengen ngomong langsung, tapi signalnya gak ngedukung, jadi lewat sms ja ya, aku cuma pengen bilang, AKU BENCI SAMA KAMU ! ! ! DAN AKU PENGEN KAMU LUPAIN AKU, KAYAK AKU LUPAIN KAMU." setelah beberapa menit ku kirim, akhirnya terkirim juga. Waktu itu dia gak ngerespon apapun, aku bergepas pulang, walau hati seperti teriris, jiwa seperti tersayat, tapi aku sadar, cepat atau lambat semua harus terakhiri. Belum sempat aku berhentikan taxi di depan kantornya, aku lihat ramai, ada banyak orang yang sedang berkerumun. Entah apa yang sedang mereka lihat ?. Dengan rasa penasaran, aku mencoba mendekati kerumunan itu. Aku semakin ingin tahu, sebelum aku dekat dengan kejadian itu, aku tanyakan pada salah seorang yang akan pergi setelah berkerumun. "Ada apa ya mas ? Kok rame " tanyaku penasaran. "Ada orang jatuh mbak dari lantai paling atas.". "bunuh diri maksudnya ?"."kurang tau juga mbak" "pasti pria itu !" kataku dihati. Tapi anehnya, kenapa saat aku tahu ada yang terjatuh, hatiku terasa sakit sekali, dag dig dug detak jantungkupun semakin kencang, perasaan tak nyaman terlintas dipikiranku. Padahal aku tak tahu siapa dia. Semakin penasaran ku coba mendekatinya. Dan ternyata, jauh dari dugaanku, ku lihat sosok pria yang sangat dekat denganku, tergeletak tak berdaya dihadapanku, sambil menggenggam erat hpnya. Aku lemas sekali melihatnya, semakin dekat, semakin tak kuasa aku berdiri. Ku angkat kepalanya ke atas pahaku, ku topang dia, dengan menatap perih batinku, ku lihat darah bergelinang disekitarnya, tak sanggup aku ingin memeluknya, ku belai pipinya dengan jemariku. Aku berharap ini mimpi, tapi rasa sakitnya, membuatku yakin ini kenyataan. Belum sempat ambulance datang, dia menatap tajam mataku, sambil berkata "jika nanti aku mampu bertahan, hanya ada satu alasan, KARENA AKU SELALU MENUNGGUMU" Nafasnya tak beraturan, tak lepas tatapanku dari sorot matanya, yang seakan berharap aku ada disampingnya, itu yang aku rasakan. Ku genggam erat jemarinya, tapi ambulance belum juga datang, padahal baru sebentar, namun terasa lama sekali, aku takut dia pergi, aku harus kehilangannya lagi, apa lagi untuk selamanya, AKU GAK SIAP ! ! !. Selang beberapa detik sebelum ambulance datang, ku lihat dia menghembuskan nafas terakhirnya diiringi detak jantung penghabisannya. Hanya satu kata yang mampu ku Teriakan sambil memeluk erat raganya, seakan ku tak mau melepasnya "TIDAAAAAAAAAAAKKK. . . .!" riak tangis tak mampu ku tahan, entah apa rasanya saat itu, semua bercampur dalam angan tak menentu. "semua ini salahku !" gentak ku dalam hati. Setibanya dirumah sakit, ku lihat shinta buru-buru mendekati Remi, dengan nafas tak karuan, dia terus menangis. Ada kebencian ketika menatapku, namun hanya tangis yang dia ekspresikan. Tak lama setelah dia memeluk jasad Remi. Tiba-tiba dia kesakitan sambil memegang perutnya, dan aku mencoba menahannya agar tak terjatuh, namun dia menolak bantuanku. Susterpun bergegas menolongnya. Aku hanya bisa melihat kesakitannya dari kejauhan, tapi aku menunggu di depan ruang UGD, khawatir dengan keadaan Shinta. Diiringin kesedihan atas kepergian cinta yang selalu ku rindu, aku terlelap dalam kekhawatiran. Beberapa saat aku menunggu, ku dengar suara khas tangis bayi saat baru dilahirkan, setelah itu dokterpun keluar dari ruang UGD tersebut. Langsung saja ku mendekati dokter itu. Ku lihat raut wajah yang tenang waktu itu sambil berkata "kamu saudaranya ?". "bu. . . Bukan dok, saya sa. . . Sahabat suaminya". "suaminya mana ?". Terdiam aku sejak dan ku katakan "meninggal barusan dok". "saya ikut berduka, tapi sanak saudara lainnya ada ?"."mereka sibuk dok". "oh. . . Sebenarnya ada hal penting yang harus disampaikan mengenai ibu shinta". "beritahu saya dok, biar saya yang nanti menyampaikan ke keluarganya". "baiklah. . . Ibu shinta telah melahirkan bayi laki-laki, tapi sayangnya. . . .". "Ada apa dok ? Katakanlah. . . .". "Ibu Shinta tak bisa bertahan setelah melahirkan, saya ikut berduka". "jadi. . . Shinta meninggal dok ?" tanyaku lirih. . . Dan dokterpun hanya mengangguk dengan memejamkan mata, tanda ia ikut bersedih. Ku lihat bayi mereka terlelap diruangannya, ku tatap penuh rasa sedih. "ya Allah. . . . Betapa kasihannya bayi itu, sendiri disaat dia membutuhkan belai kasihsayang ke dua orang tuanya. . . Dan semua itu karena, jika saja aku berani mengatakan dihadapannya, mungkin takan begini jadinya." satu hari setelah kepergian Remi dan Shinta, aku bersumpah "aku akan menjaga anak mereka, hingga kelak anak ini dewasa, sebagai ucapan maaf terhadap Shinta, dan sebagai ganti rasa cintaku terhadap Remi". Tak pernah ku beritahu keluarga mereka tentang kehadiran cucu mereka, ketika aku tahu, mereka tak tahu mengenai kehamilan Shinta, keluarga merekapun hanya datang ketika acara pemakaman Shinta dan Remi. Pemakaman tersebut diiringi riak tangis keluarganya, dan aku hanya bisa melihat dari ke jauhan. Karena aku tak mau merusak suasana, dengan adanya aku disana, keluarga Remi takan diam, mungkin mencaci dan mengusirku pergi. Setelah kejadian itu. Kini aku tak lagi sendiri, tak lagi merasa kesepian. Meski kadang ada perih ketika menatap wajah anaknya, namun aku yakin ada cinta disenyuman anaknya yang mirip dengan senyumannya. Bersambung. . .
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Cerpennya krennn, , , ,
BalasHapus:)